Lampung kembali menegaskan posisinya sebagai kekuatan utama industri singkong nasional. Pemerintah Provinsi Lampung resmi melepas ekspor perdana sebanyak 3.330 ton tapioka ke China—sebuah langkah strategis yang menandai percepatan hilirisasi komoditas unggulan daerah tersebut.

Ekspor ini bukan sekadar transaksi dagang, melainkan bagian dari transformasi besar: mengubah singkong dari bahan mentah menjadi produk industri bernilai tinggi yang mampu bersaing di pasar global.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menegaskan bahwa Lampung saat ini menyumbang sekitar 70 persen produksi tapioka nasional. Dengan dominasi tersebut, menjaga keseimbangan ekosistem singkong—dari petani hingga industri—menjadi prioritas utama.
Ia menekankan pentingnya pertumbuhan industri pengolahan agar hasil panen petani dapat terserap dengan harga yang lebih layak dan stabil. Menurutnya, hilirisasi adalah kunci untuk meningkatkan daya saing sekaligus kesejahteraan petani.

Untuk memperkuat langkah ini, Pemprov Lampung tengah menyiapkan regulasi melalui Peraturan Gubernur (Pergub) yang bertujuan menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri dan perlindungan harga di tingkat petani.
Tak berhenti di situ, pemerintah juga menggagas pembangunan National Cassava Center bekerja sama dengan Universitas Lampung. Pusat riset ini akan fokus pada pengembangan bibit unggul dengan kadar pati tinggi, serta inovasi alat dan mesin pertanian khusus singkong guna menekan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi.

Dari sisi ekspor, tren positif terus terlihat. Hingga April 2026, volume ekspor tapioka Lampung telah mencapai 10.000 ton—hampir menyentuh setengah dari total ekspor sepanjang 2025 yang mencapai 22.500 ton dengan nilai sekitar Rp130 miliar.
Pemerintah memastikan bahwa produk tapioka asal Lampung telah memenuhi standar internasional melalui pengawasan ketat dan sertifikasi karantina, sehingga kualitas tetap terjaga di pasar global.
Sementara itu, pelaku industri melihat ekspor ke China sebagai pintu masuk yang menjanjikan. Permintaan dari negara lain seperti Korea Selatan dan Bangladesh mulai bermunculan, membuka peluang ekspansi yang lebih luas.
Ekspor perdana ini diharapkan menjadi titik awal kebangkitan industri turunan singkong di Lampung—bukan hanya memperkuat posisi di pasar internasional, tetapi juga membawa dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan petani lokal.





